Tag: puisi

Hari Pahlawan

Kecemasan dan Harapan di Tanah Lapang

Dua tiga empat orang mulai berdatangan di pagi buta,

Pada sebuah tanah lapang dengan aroma wangi,

Melangkah atau lumpuh

Maju atau lenyap

Dengan sebatang bambu

Untukmu menumpas peluru

Tak tumbang dalam waktu

Tak luntur dalam hasutan

 

Mereka hanya melawan

Walau nyawa akan hilang

Mereka hanya menyerbu

Walau tangan hanya ada bambu

Berbilah sembilu menumpas nafsu

Meraung merangkak terengah buru

 

Kerumunan orang telah memadati lapangan pagi itu

Bersesak-sesak tanpa alas sambil berpegang bambu runcing

Berdiri tegap dan menopang dada

Penuh sesak ia berteriak

Melangkah atau lumpuh

Maju atau lenyap

Seketika hening waktu itu

Cemas, penuh harap

 

Yogyakarta, 10 November 2017

puisi rasa kesepian dan depresi

Puisi : Datanglah, Kan Ku Jaga Engkau

puisi rasa kesepian dan depresi

Puisi : Datanglah, Kan Ku jaga Engkau

Berasal darimana kekecewaan?
Kenapa yang merasakan hanya aku?
Lalu, dimana kebahagiaan?
Mungkin setelah hilang jasad ini.

Apa memang diri ini cocok,
Untuk doobing para predator mental?
Jasad ini belum kuat!
Ini bukan tempat kalian!

Lalu, dengan cara apa kebahagiaan datang?
Diri ini sudah menginginkan kalian.
Bukankah sudah kukirim surat?
Atau harus dengan lagu indah?

Kuharap kau datang kebahagian!
Kulakukan kongres kontrak.
Kubuat kwitansi perjanjian.
Ku jaga kau hingga syahid diri ini.

~Adi Ariyanto – @adiariy8~

“Orang yang sama, kisah yang sama, tak akan pernah ada dalam waktu yang berbeda.” – Boy Candra.

Cahaya

Pantulan sinarmu

Mewarnai hari-hariku

Membuat awan gelap

Serasa terang benderang

 

Awan biru, Gunung hijau

Bak lukisan hatiku saat ini

Entah harapan bisu

Ataukah kenyataan

 

Cahaya

Memandangmu begitu indah

Mendekapmu dari jauh membuatku tenang

Haruskah kau tahu cahaya

Apa yang aku rasakan saat ini ?

 

Akankah Aku harus  berlari

Mengejar dirimu cahaya ?

Ataukah hanya

Mengagumimu dalam diam

Kenapa Harus Bicara

Berceritalah maka akan kudengar

Seperti hujan syahdu di senja hari

Rintiknya keras jatuh kebumi

Namun bukan sendiri, ia bernyanyi

Guyonan renyah dari langit

Melihat esok mentari kan jemput

Hujan-hujan senja itu kembali

Kenapa harus bicara?

Itu bukan nada yang sesungguhnya

Cobalah naikan sedikit

Kenapa! Harus bicara?

Tenanglah sepertinya mentari tak sepanas itu

Kenapa? Harus biacara!

Ya, itu jawabannya