Tag: karya ngelantur

Mahasiswa kutu buku vs garis keras

Mahasiswa Kutu Buku Vs Mahasiswa Garis Keras

Jika membicarakan mahasiswa, tugas merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dalam diri mahasiswa. Tugas sepertinya sudah melekat dalam darah daging seorang mahasiswa, tak jarang ada mahasiswa yang lebih memilih tugas daripada menghabiskan malam minggunya dengan gebetan atau pacar (jika ada). Walaupun dalam pengerjaannya sendiri, mahasiswa lebih cenderung untuk mengamalkan tombol “c” dan “v” pada  keyboard. Alasan pertama efisiensi tentu saja, walaupun ada unsur-unsur kemalasan walau sebiji zahrah, apalagi mahasiswa semester tua yang mengulang.

Tapi jangan salah, dari tugas-tugas tersebut akan membuat mahasiswa mendapat nilai bagus, dan goal-nya adalah Indeks Prestasi (IP) setinggi-tingginya bagi yang konsisten mengamalkannya. Dari sana otomatis akan membuat bangga papa-mama dan para tetangga sekitar melalui broadcast papa-mama. Dan memunculkan slogan “katakan tidak pada selain tugas”.

Kabar baiknya, rutinitas mahasiswa hanya berkutat seputar kuliah-tugas-buat tugas-kuliah, begitu seterusnya. Kata trennya yakni “kutu buku”, indah, bukan? Tentu dong. Itu merupakan garis lurus dari seorang mahasiswa, ada lagi mahasiswa yang menganut garis keras / radikal, yakni mahasiswa yang membelot dari garis kebenaran. Mahasiswa yang lebih mementingkan berorganisasi ketimbang menjadi kutu buku sejati dan membanggakan papa-mama. Mahasiswa semacam ini biasanya senang berada di gedung pusat mahasiswa, dan cenderung memilih untuk menomorduakan kuliah.

Pada akhirnya IP mahasiswa garis keras cenderung tidak tinggi-tinggi amat, jika ada yang tinggi harus diragukan ke-radikal-annya, bisa jadi jiwa-jiwa militan pada pikiran dan tindakan mahasiswa tersebut sudah mulai mengikis, atau bahkan hilang oleh pergaulan dengan mahasiswa kutu buku maupun dokrin semasa perkuliahan. Gejalanya biasanya terlihat saat sedang atau akan diadakannya kegiatan berorganisasi, alasan utamanya yakni tugas, dan tidak jarang beralasan kerja kelompok untuk mengerjakan tugas. Dan yang paling kocak adalah tanpa adanya alasan karena sedang mengerjakan tugas. Memang, barangkali tugas merupakan antitesis mahasiswa garis keras. Padahal sehari itu dua puluh empat jam dan seminggu adalah tujuh hari. Hmmm….

Berkaca dari masa perekrutan tahun lalu yang hampir gagal, membuat para mahasiswa garis keras harus ekstra dalam memutar otak demi merekrut pejuang-pejuang yang militan melalui doktrin-doktrin hebat mereka. Segala macam cara harus dikerahkan oleh mahasiswa garis keras tanpa memperdulikan halal ataupun haram, mulai dari isu sara sampai dengan iming-iming surga dunia-akhirat demi suksesnya perekrutan. Tak jarang, banyak mahasiswa kutu buku yang mempunyai iman yang kuat menghadapi cobaan yang diberikan. Alhasil, usaha mahasiswa garis keras akan gagal dan mengulang pencapaian masa perekrutan tahun lalu, sungguh menyebalkan memang, tapi itu merupakan tantangan tersendiri oleh para mahasiswa garis keras dan tentunya cobaan yang harus dilalui jika tidak ingin tinggal nama dan ditulis dalam sejarah kampus.

Tinggal nama,