Pendidikan Jaman Now Dan Problematikanya

lpmjournal.id ― Pendidikan merupakan kewajiban bagi semua orang, terlepas dari pendidikan yang bersifat formal ataupun informal. Sekolah bukan satu-satunya arena untuk meraih pendidikan, bukan juga sebatas lingkungan kampus dan universiti. Pendidikan bertujuan mencerdaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan, dari penindasan, maupun perbudakan. Pendidikan menurut hemat penulis yakni sesuatu yang dapat membebaskan, tidak terkekang dalam kandang seperti seekor burung di dalamnya, bukan juga seperti percintaan muda-mudi, berada dalam suatu lingkaran mengikat yang memperbudak.

Namun jika menilik pendidikan akhir-akhir ini, sungguh jauh dari bentuk idealnya. Pendidikan tidak lagi mencerdaskan dan membebaskan manusia, melainkan mengurung pikiran dalam sebuah kotak, memperbodoh dan memperbudak secara sukarela. Di sekolah-sekolah, pendidikan hanya mengejar nilai-nilai untuk menentukan kenaikan ataupun kelulusan melalui tes atau ujian. Padahal ujian terkadang tidak mencerminkan kemampuan para murid yang tiap saat berubah.

Selain tes atau ujian untuk sekedar mencari angka, pendidikan sekarang juga mengajarkan individu untuk menjadi buruh terdidik, menaati perintah atasan dan hanya mengajarkan keterampilan praktis. Tidak berbeda jauh dengan Artificial Intelligence pada robot yang diprogram untuk hanya melakukan suatu kegiatan monoton. Pendidikan, yang seharusnya membebaskan telah berubah menjadi sesuatu yang mengekang manusia, menjadi sarana cuci otak dan menjadikan manusia fanatik, intoleran terhadap manusia, dan tidak mampu berpikir kritis karena terjebak dalam sebuah dogma yang diajarkan sedari kecil ataupun dalam kehidupan bermasyarakat kita.

Intelektual menjadi derajat tertinggi, soal rasa dan hati nurani untuk sekedar berempati urusan belakang. Yang tak kalah memperihatinkan dari derajat tersebut yakni gila hormat, nampaknya jiwa-jiwa feodal belum hilang dalam stigma orang tua ataupun praktisi pendidikan, Kehormatan terkadang dipaksakan untuk meraih suatu pandangan derajat yang tinggi. Akibatnya jika murid tidak berhasil dalam meraih kehormatan tersebut, akan dikucilkan dari masyarakat karena dianggap gagal, dan orang tua biasanya akan merasa sangat malu akan hal tersebut.

Penutupnya adalah pada sentra pendidikan itu sendiri, pendidikan yang seharusnya dinikmati oleh semua kalangan, namun nyatanya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang pintar dan ber-uang. Mendaftar sekolah akan ada seleksi atau tes untuk dapat masuk, alasannya untuk menjaring murid-murid berkualitas, jadi sekolah tinggal mengembangkan potensi tanpa harus capai-capai merekonstruksi murid yang belum bisa. Setelah terdaftar dalam instansi pendidikan, murid-murid akan ditunggu oleh beragam biaya yang tidak sedikit, biasanya biaya tersebut berbanding lurus dengan pilihan prosesi pendidikan yang dipilih. Negeri tak menjamin biaya yang dikeluarkan akan rendah. Dan biaya pun tak menjamin akan mendapatkan pendidikan yang selayaknya.

“Nilai akhir dari proses pendidikan, sejatinya terrekapitulasi dari keberhasilannya menciptakan perubahan pada dirinya dan lingkungan. Itulah fungsi daripada pendidikan yang sesungguhnya.”
― Lenang Manggala, Founder Gerakan Menulis Buku Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *