Kategori: Karya Ngelantur

mahasiswa apatis

Mahasiswa, Kenapa Harus Apatis?

mahasiswa apatis

Lagi-lagi berbicara tentang mahasiswa, kalangan intelektual yang mempunyai sifat kritis. Hal yang tidak sesuai atau bersolusi untuk kepentingan bersama adalah titik focus kritis mereka. Ya, mereka sebagai “agent of change” untuk bangsa dan Negara”, Kata masyarakat umum.

Kritis, kritis, kritis, kemudian terbalik menjadi apatis. Apatis adalah sifat acuh, tidak peduli, masa bodoh terhadap suatu hal yang terjadi. Baik itu sebuah kebijakan, aturan, tidak berjalannya suatu sistem dengan semestinya. Apa penyebabnya? Memang mahasiswanya yang apatis atau lembaga yang membungkan mahasiswa kritis?

Mahasiswa hidup di miniatur Indonesia, ya anggap saja itu kata lain dari kampus. Pemerintahan dipegang oleh lembaga kampus yang membuat aturan, kebijakan dan sistem, kemudian rakyatnya adalah mahasiswa sebagai pelaksana serta mengontrol kebijakan.

Bukankah di kampus kita diajak untuk demokrasi, tanggung jawab, berpolitik yang bersih dan lainnya? Ya semua itu untuk menyiapkan mahasiswa ketika terjun di masyarakat.

Tetapi berbeda dengan kenyataan. Mahasiswa memilih mengejar IPK tinggi dan bersikap terserah terhadap lembaga. Mereka menganggap hal tersebut tidak penting, karena yang paling utama menjadi seorang mahasiswa adalah BELAJAR. Ataukah ini memang sebuah topologi yang dikemas rapi dalam sistem pendidikan kampus ini? Mematikan para mahasiswa kritis, mendoktrinasi mahasiswa bersikap apatis?

Ke kenyataan aja dulu ya, kebanyakan mahasiswa menggerutu, menghujat dan marah di belakang tetapi tidak mau mengungkapkan langsung kepada pihak lembaga. Kan padalah lembaga sangat butuh mahasiswa yang kritis. Iya gak sih? Lembaga membutuhkan kritik dan saran dari mahasiswa yang digunakan untuk bahan acuan dalam peningkatan mutu agar kedepannya menjadi lebih baik.

Jika mahasiswa tidak perduli, lembaga akan merasa pelayanan yang diberikan sudah memuaskan. Iya gak sih? Alhasil lembaga tidak perlu berkembang. Dilihat dari tidak adanya kritikan dan saran mahasiswa. Tapi kan, masalah pasti selalu ada. Karena tidak mungkin suatu sistem itu sempurna dan pasti ada kelemahannya. Nah kawan, hal itu harus diperbaiki. Harapannya, mahasiswa memiliki jiwa pemberani. Berani bertindak, berani menyuarakan kebenaran (Karena kebenaran akan terus hidup). | Adi